1. Potensi Pembangunan Daerah Kabupaten Magetan

    Potensi pembangunan daerah merupakan modal dasar yang terdapat di

    wilayah Kabupaten Magetan yang memungkinkan kabupaten ini tumbuh dan

    berkembang. Penilaian atas potensi pembangunan daerah akan didasarkan pada

    penilaian terhadap kontribusinya dalam menyimpan cadangan sumber daya alam

    maupun buatan yang memungkinkan Kabupaten Magetan memperoleh manfaat dari

    keberadaan sumberdaya tersebut dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Penentuan kegiatan ekonomi sebagai potensi daerah didasarkan atas

    berbagai pertimbangan seperti: (a) seberapa besar ketergantungan kehidupan

    masyarakat Kabupaten Magetan terhadap kegiatan tersebut dalam jangka panjang.

    Indikator makro yang digunakan adalah kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi

    dan serapan tenaga kerja, (b) seberapa besar peluang dari kegiatan tersebut untuk

    tetap eksis (sustainability) sebagai sumber penghidupan dan kehidupan penduduk,

    (c) seberapa besar nilai tambah (manfaat) yang diterima masyarakat dari hasil

    pengolahan/pemanfaatan sumberdaya bersangkutan dibandingkan dengan akibat

    negatif yang ditimbulkannya baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

    1. Daya Dukung Lingkungan

    a. Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Pertanian dan

    Perkebunan Kabupaten Magetan memiliki kesesuaian lahan yang sangat potensial

    (dengan tingkat kesesuaian S1 atau sangat sesuai) untuk pengembangan

    pertanian khususnya tanaman palawija (jagung dan kedelai), sayuran

    (cabai) dan buah-buahan (jeruk). Selain itu lahan di Kabupaten Magetan

    memiliki kesesuaian dengan tingkat kesesuaian yang lebih rendah untuk

    pengembangan produksi pertanian yang sesuai dengan tingkat kesesuaian

    lahan yang juga bermanfaat secara ekologis bagi keberlangsungan

    kegiatan pertanian.

    b. Letak Kabupaten Magetan di Lereng Gunung Lawu pada Ketinggian

    75 s/d 1.200 dpl. 

    Keuntungan secara ekologis maupun ekonomis dari Kabupaten Magetan

    karena posisinya yang berada di lereng Gunung Lawu. Secara ekologis,

    Kabupaten Magetan memiliki 148 sumber mata air, dimana sebagian

    besar berada di lereng Gunung Lawu yaitu 57 buah di Kecamatan Plaosan

    dan 32 buah di Kecamatan Panekan. Sumber mata air ini merupakan mata

    air 14 sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Magetan.

    Secara ekonomis, lereng Gunung Lawu memberikan keindahan alam

    pemandangan serta keberadaan Telaga Sarangan dapat memberikan

    kontribusi terhadap penerimaan daerah Kabupaten Magetan. Sebagai

    daerah vulkan yang terletak di lereng Gunung Lawu menjadikan lahan di

    wilayah ini

    2. Demografi

    Jika dilihat secara demografis struktur penduduk Kabupaten Magetan memiliki

    potensi untuk pengembangan wilayah.

    Pada tahun 2007 sebanyak 69,83% penduduk termasuk dalam kategori

    penduduk usia produktif (usia 15-65 tahun), sedangkan 30,62% sisanya

    merupakan penduduk usia tidak produktif. Hal ini berarti angka beban

    tanggungan penduduk Kabupaten Magetan sebesar 44,13 artinya tiap 100

    orang penduduk produktif harus menanggung 44 orang penduduk tidak

    produktif. Semakin besar proporsi penduduk usia tidak produktif, maka

    semakin besar beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif.

    Dari aspek kesehatan, kualitas penduduk menunjukkan derajat kesehatan

    yang relatif tinggi jika diukur dari angka kematian bayi dan usia harapan hidup.

    Angka kematian bayi mencapai 28,51 dan usia harapan hidup penduduk

    Kabupaten Magetan mencapai 69,63.

    3. Ekonomi

    a. Laju Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

    Secara keseluruhan perkembangan sektor-sektor ekonomi di Kabupaten

    Magetan selama 2001-2007 menunjukkan pertumbuhan positif dengan laju

    rata-rata 4,47%/tahun. Peningkatan ini telah mampu meningkatkan skala

    ekonomi wilayah dari Rp 2.133.116,12 juta tahun 2001 menjadi Rp

    2.773.517,23 juta tahun 2007. Pertumbuhan ekonomi tersebut telah

    memberikan sumbangan positf terhadap kenaikan kesejahteraan

    penduduk yang ditunjukkan dengan peningkatan PDRB per kapita dari Rp.

    3.127.961,01 menjadi Rp. 4.457.503,04.

    Sektor-sektor yang memberikan peran besar terhadap peningkatan

    ekonomi wilayah adalah sektor perdagangan, sektor pertanian, sektor jasa

    dan industri pengolahan.

    b. Surplus Produksi Pertanian

    Kegiatan sektor pertanian khususnya tanaman pangan dengan komoditas

    utama padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, sayuran dan buahbuahan

    mengalami surplus produksi. Pertanian tanaman pangan

    memberikan kontribusi terhadap ekonomi wilayah sebesar 25,08% dan

    72,09% terhadap pembentukan nilai tambah pertanian.

    Surplus produksi tersebut dapat menjadi pendukung bagi ketahanan

    pangan wilayah serta diharapkan dapat menjadi surplus ekonomi yang

    dapat meningkatkan pendapatan petani dan mendorong perkembangan

    kegiatan ekonomi lain.

    Kegiatan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Magetan menghasilkan

    komoditas padi, palawija dan holtikultura. Kegiatan pertanian ini didukung

    oleh ketersediaan lahan beririgasi teknis produksi padi yang dihasilkan

    memberikan kontribusi terbesar dalam produksi kegiatan pertanian

    tanaman pangan. Produksi yang dihasilkan tidak hanya dapat mencukupi

    kebutuhan lokal wilayah tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih

    luas.

    c. Potensial untuk Pengembangan Industri Berbasis Pertanian

    Pengembangan industri berbasis pertanian ini tidak terlepas dari

    melimpahnya produksi pertanian khususnya tanaman pangan dan

    tanaman perkebunan (tebu). Produksi pertanian tanaman pangan dan

    tanaman perkebunan menjadi sumber bahan baku potensial bagi

    pengembangan industri berbasis pertanian. Pengembangan industri

    pertanian yang berbasis pertanian dapat meningkatkan nilai tambah

    produk pertanian dan menciptakan kesempatan kerja.

    Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap

    ekonomi wilayah Kabupaten Magetan selain sektor pertanian adalah

    sektor perdagangan, hotel dan restoran (24,95% tahun 2007) dan sektor

    jasa-jasa (18,08% tahun 2007). Nilai tambah yang dihasilkan dari sektor

    perdagangan didukung oleh kegiatan ekspor, perdagangan antar wilayah

    dan perdagangan lokal. Kegiatan ekspor didominasi oleh komoditas kulit

    yang didukung oleh industri pengolahan kulit. Kegiatan perdagangan juga

    tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pariwisata. Arus kunjungan wisatawan

    melalui pengeluaran yang dilakukan telah mendorong berkembangnya

    sektor perdagangan.

    Potensi utama yang dapat menjadi tumpuan bagi pembangunan daerah

    Kabupaten Magetan adalah pertanian. Pertanian yang dimaksud hal ini

    adalah peternakan, dan perkebunan khususnya. Sektor pertanian

    mempunyai potensi untuk dapat menurunkan kegiatan ekonomi lainnya di

    sektor industri pengolahan produk pertanian. Kegiatan sektor pertanian

    diharapkan dapat menjadi penggerak bagi kegiatan industri yang berbasis

    pada sektor pertanian seperti industri hasil produk peternakan sapi,

    industri hasil pengolahan produk perkebunan, perdagangan maupun

    pariwisata.

    d. Potensi Pengembangan Usaha Peternakan Sapi

    Kegiatan usaha peternakan sapi potong tersebut tersebar di semua

    wilayah Kabupaten Magetan dengan sentra-sentra produksi yang tesebar

    di 7 kecamatan yakni di Kecamatan Poncol, Plaosan, Parang, Bendo,

    Lembeyan, Panekan dan Sukomoro. Ketujuh kecamatan tersebut

    memberikan sumbangan sebesar 72,48% terhadap populasi ternak sapi di

    Kabupaten Magetan. Pengembangan perdagangan ternak tersebut

    didukung oleh keberadaan pasar hewan yang berjumlah 5 unit. Pasar

    hewan tersebut terletak di Kecamatan Plaosan, Bendo, Maospati,

    Panekan, Parang dan Kawedanan.

    Kegiatan peternakan sapi potong tersebut tidak hanya memberikan

    manfaat dari hasil pemotongan sapi tersebut, namun kotoran ternak sapi

    dapat diolah kembali untuk dijadikan pupuk. Pupuk ini dapat diolah dan

    dimanfaatkan sebagai bahan utama pupuk organik. Pupuk organik dapat

    digunakan untuk memupuk tanaman yang termasuk dalam kategori

    tanaman pangan.

    Penggunaan pupuk organik pada jangka panjang akan dapat menjaga

    kelestarian lingkungan. Oleh karena pupuk organik lebih baik untuk

    menjaga kesuburan dan kelangsungan tanah jika dibandingkan dengan

    pupuk urea yang justru mengakibatkan tanah semakin rusak karena bahan

    yang digunakan dalam pembuatan pupuk urea mengandung disinfektan.

    Dengan mengandung bahan kimia tersebut maka tanah cenderung

    semakin rusak dan semakin rakus terhadap pupuk urea karena kehilangan

    unsur hara. Kandungan organik dan kejenuhan basa sangat rendah

    sampai rendah.

    Kegiatan peternakan ini selain dilakukan dengan tujuan untuk diambil

    dagingnya atau dipotong, memiliki potensi lain yang layak untuk

    dikembangkan menjadi industri pengolahan kulit berupa penyamakan dan

    kerajinan kulit. Kulit dari sapi ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku

    industri pengolahan kulit. Selama ini kontribusi industri pengolahan pada

    umumnya terhadap pendapatan daerah sebesar 8,21% (tahun 2007).

    Dari subsektor industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, Kabupaten

    Magetan memiliki produk unggulan berupa barang-barang kerajinan kulit

    yang sudah dipasarkan hingga ke luar Pulau Jawa. Jenis barang yang

    diproduksi adalah sepatu kulit, sandal kulit, tas, dan sebagainya. Kulit

    merupakan bahan baku dalam industri kerajinan kulit sehingga usaha

    penyamakan kulit memiliki keterkaitan dengan industri lainnya termasuk

    dengan usaha pengolahan makanan kulit rambak.

    e. Potensial untuk Pengembangan Wisata Alam

    Sumberdaya alam berupa lereng Gunung Lawu dan sumber mata air

    merupakan sumberdaya alam yang cukup potensial untuk pengembangan

    pariwisata berbasis alam. Lereng Gunung Lawu yang berhawa sejuk yang

    dipadukan dengan keindahan Telaga Sarangan menjadi kekuatan

    tersendiri yang menarik minat bagi wisatawan. Selain itu wisata berbasis

    air dapat dikembangkan menjadi obyek wisata potensial yang

    mengandalkan pada sumber mata air yang terdapat di lereng Gunung

    Lawu tersebut. Pengembangan kegiatan pariwisata selain dapat

    memberikan dampak terhadap peningkatan kegiatan ekonomi juga dapat

    membawa peningkatan pada pendapatan daerah.

    4. Prasarana dan Sarana Wilayah

    a. Kuantitas Ketersediaan Prasarana Transportasi Cukup Memadai

    Secara kuantitas sarana prasarana cukup potensial bagi pengembangan

    wilayah Kabupaten Magetan. Jaringan jalan di Kabupaten Magetan terdiri

    dari jalan negara, jalan provinsi dan jalan kabupaten mencapai 567,60

    kilometer. Pada tahun 2007 rasio panjang jalan terhadap penduduk

    mencapai 0,8 kilometer per kilometer persegi. Kondisi ini mengisyaratkan

    bahwa sarana prasarana di Kabupaten Magetan cukup baik sebagai

    pendukung kegiatan ekonomi antarwilayah dalam mencukupi kebutuhan

    pelayanan transportasi penduduk.

    b. Kuantitas Pelayanan Sosial Dasar Cukup Memadai

    Sementara itu kuantitas pelayanan sosial dasar cukup memadai.

    Ketersediaan prasarana sosial dasar khususnya pendidikan dan kesehatan

    cukup memadai untuk melayani kebutuhan penduduk akan pelayanan

    pendidikan dan kesehatan. Fasilitas pendidikan dan kesehatan telah

    tersebar merata di semua wilayah Kabupaten Magetan.

    5. Pelayanan Pemerintahan

    Pelayanan pemerintah yang baik dapat dicerminkan dari kualitas aparatur

    pemerintah. Kualitas aparatur pemerintah di Kabupaten Magetan semakin

    meningkat. Peningkatan kualitas aparatur pemerintah tersebut ditunjukkan dari

    peningkatan persentase aparatur pemerintah yang berpendidikan tinggi (S1

    dan S2) dari 57,38% tahun 2004 menjadi 72,40% pada tahun 2007.

    Peningkatan tingkat pendidikan aparatur pemerintah tesebut diharapkan dapat

    memberikan peningkatan pelayanan pada masyarakat.

    6. Keamanan dan Ketertiban

    Keamanan dan ketertiban di Kabupaten Magetan relatif kondusif. Hal ini

    terlihat dari semakin menurunnya angka kriminalitas. Tahun 2001 tercatat

    angka kriminalitas sebanyak 31 pelanggaran, kemudian tahun 2003 menjadi

    17 kasus pelanggaran. Kondisi keamanan yang kondusif tersebut sangat

    mendukung upaya pembangunan daerah.