1. Kondisi Sosial Budaya Kabupaten Magetan

    Jumlah penduduk Kabupaten Magetan sampai dengan akhir Desember 2007 sebanyak 693.274 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.006 jiwa/km2 dan terkonsentrasi di Kecamatan Magetan dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 2.220 jiwa/km2. 

    Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 1996-2007 sebesar 0,28%. 

    Laju pertumbuhan penduduk tertinggi tahun 1996-2007 ada di Kecamatan Plaosan yaitu sebesar 0,57%.

    Tekanan penduduk rata-rata Kabupaten Magetan (Tahun 2005) sebesar 8,24. 

    Jika persentase jumlah petani dan keluarganya terhadap jumlah penduduk total 1, sebagai angka ideal, maka ambang batas penduduk Kabupaten Magetan sebesar 456.182 orang. 

    Dengan demikian Kabupaten Magetan kelebihan penduduk sebesar 235.003 orang (2005). 

    Tahun 2007 tekanan penduduk sebesar 6,80 (berdasarkan data Kecamatan Dalam Angka).

    Ambang batas penduduk sebesar 376.253 orang. 

    Dengan demikian Kabupaten Magetan kelebihan penduduk sebesar 317.015 orang.

    Komposisi penduduk usia produktif sebesar 69,38 persen atau 480.994 orang, sedangkan sisanya sebesar 30,62 persen atau sekitar 212.280 orang merupakan penduduk usia tidak produktif yang terdiri dari 137.030 orang penduduk usia muda (0-14 tahun) dan 75.250 orang penduduk lanjut usia (65 tahun ke atas) sehingga angka beban tanggungan penduduk Kabupaten Magetan tahun 2007 sebesar 44,13 artinya tiap 100 orang yang produktif harus menanggung 44 orang yang tidak produktif.

    Jumlah penduduk Kabupaten Magetan pada Tahun 2007 sebesar 693.274 jwa terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 335.292 jiwa atau 48,36% dari total penduduk Kabupaten Magetan dan penduduk perempuan sebesar 51,64% dari total penduduk atau sebanyak 357.982 jiwa. 

    Rasio jenis kelamin (sex ratio) Kabupaten Magetan sebesar 94, artinya tiap 100 penduduk perempuan terdapat 94 penduduk laki-laki atau penduduk laki-laki lebih sedikit daripada penduduk perempuan.

    Persentase terbesar penduduk menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Magetan pada Tahun 2007 adalah berpendidikan SD (29,4%), diikuti oleh penduduk yang berpendidikan SLTP (20,2%) dan SLTA (19,2%).

    Sementara penduduk yang tidak atau belum tamat SD cukup besar yakni 15,69%. 

    Menurut data Dinas Pendidikan pada tahun 2005 penduduk yang memiliki pendidikan SD sebanyak 278.143 orang (40,18%), SLTP sebanyak 172.242 orang (24,88%) dan SLTA sebanyak 109.621 orang (15,84%).

    Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) di Kabupaten Magetan selama tahun 2003-2007 menunjukkan kecenderungan perkembangan yang cukup berarti. 

    Pada jenjang SD, APK berkisar antara 109,41-112,83 persen dan APM berkisar antara 94,76-99,42 persen. 

    Nampak kecenderungan semakin turunnya APK selama Tahun 2003-2007 dari 112,83 persen menjadi 109,41 persen. 

    Meskipun APM di jenjang SD selama tahun tersebut menunjukkan peningkatan dari 97,67 persen menjadi 99,42 persen.

    APK maupun APM pada jenjang SLTP semakin menurun jika dibandingkan dengan jenjang SD. 

    Hal ini mengisyaratkan bahwa partisipasi penduduk untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTP semakin menurun.

    APK jenjang SLTP berkisar antara 96,11-99,75 persen, sedangkan APM berkisar antara 76,82 persen-97,51 persen. 

    Kecenderungan selama tahun 2003-2007 menunjukkan penurunan APK dan sebaliknya terjadi sedikit peningkatan APM dari 76,82 persen menjadi 79,05 persen.

    Demikian pula pada jenjang SLTA APK maupun APM menunjukkan penurunan jika dibandingkan jenjang pendidikan SD maupun SLTP. 

    Hal ini berarti bahwa angka melanjutkan ke jenjang SLTA semakin rendah. 

    Selama Tahun 2003-2007 APK SLTA menunjukkan fluktuasi. 

    Pada tahun 2003 APK SLTA sebesar 70,84 persen, kemudian semakin menurun hingga tahun 2005 (64,75 persen) dan kemudian naik lagi menjadi 71,16 persen tahun 2007.

    Sementara APM selama tahun 2003-2007 cenderung mengalami sedikit kenaikan dari 55,45 persen (tahun 2003) menjadi 56,31 persen (tahun 2007).

    Selama Tahun 2005-2007 penduduk Kabupaten Magetan yang menyatakan mengalami keluhan kesehatan cenderung mengalami penurunan dari 25,50% di Tahun 2005 menjadi 20,39% pada Tahun 2007. 

    Jika dibandingkan dengan keluhan kesehatan yang dialami oleh penduduk Provinsi Jawa Timur maka keluhan kesehatan penduduk Kabupaten Magetan jauh lebih rendah yakni 25,50% (Tahun 2005), sementara Provinsi Jawa Timur mencapai 29,13% pada tahun yang sama. 

    Pada Tahun 2007 keluhan kesehatan di Kabupaten Magetan turun menjadi 20,39%, sebaliknya Provinsi Jawa Timur meningkat menjadi 34,55%.

    Selama Tahun 2003 keluhan penyakit ISPA cenderung berfluktuasi dari 87.681 orang menjadi 85.604 orang pada tahun 2007. 

    Bahkan tahun 2005 tercatat 102.653 orang menyatakan mengeluh tentang ISPA yang terganggu.

    Keluhan kesehatan ini cenderung mengalami peningkatan selama Tahun 2003-2007 yakni dari 35.049 orang menjadi 44.385. 

    Kemudian diikuti oleh keluhan kesehatan tentang penyakit tekanan darah tinggi yang cenderung mengalami peningkatan pula dari 21.204 Tahun 2003 menjadi 24.229 Tahun 2007. 

    Demikian pula dengan keluhan kesehatan pada tukak lambung mengalami peningkatan yang cukup berarti dari 17.521 orang tahun 2003 menjadi 29.014 orang Tahun 2007.

    Pada Tahun 2005, penolong kelahiran terakhir yang menggunakan tenaga medis di Kabupaten Magetan tercatat 93,52%, sedangkan Provinsi Jawa Timur tercatat 77,50%. 

    Akan tetapi jika dilihat perkembangan selama Tahun 2005 hingga Tahun 2007, penolong terakhir kelahiran yang menggunakan tenaga medis di Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan yang cukup berarti sebesar 4,45% yakni menjadi 81,95%, sedangkan di Kabupaten Magetan mengalami sedikit penurunan sebesar 0,76%.

    Indikator lain untuk melihat keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan adalah Angka Kematian Bayi. 

    Semakin menurunnya Angka Kematian selama Tahun 2005-2007, Angka Kematian Bayi Kabupaten Magetan tidak mengalami peningkatan, terlihat dari data yang tercatat dari 28,44 menjadi 28,51. 

    Ini berarti untuk setiap 1000 kelahiran hidup terdapat 28 bayi meninggal di Kabupaten Magetan baik pada Tahun 2005 maupun Tahun 2007.

    Harapan Hidup penduduk Kabupaten Magetan selama Tahun 2005-2007 sedikit mengalami penurunan. 

    Tahun 2005 tercatat Angka Harapan Hidup penduduk Kabupaten Magetan sebesar 70,10 tahun, demikian pula Tahun 2006 sebesar 70,10 tahun dan Tahun 2007 menurun menjadi 69,93 tahun.

    Struktur ketenagakerjaan di Kabupaten Magetan pada Tahun 2007 sektor pertanian masih mendominasi (63,29%) dari total 439.646 tenaga kerja.

    Sektor lain yang juga cukup besar diminati oleh 61.770 pekerja adalah sektor perdagangan, hotel, dan rumah makan. 

    Sedangkan sektor jasa sosial kemasyarakatan menempati urutan ke-tiga yaitu sebesar 41.326 tenaga kerja.

    Hasil Susenas Tahun 2007 menggambarkan bahwa TPT Kabupaten Magetan pada Tahun 2007 sebesar 5,40%, menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,20%. 

    Angkatan kerja yang begitu besar di Kabupaten Magetan belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor formal, sebagai akibat lapangan pekerjaan yang kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang rendah. 

    Beban tingginya angka pengangguran yang ditanggung Kabupaten Magetan disebabkan antara lain tidak sebandingnya jumlah pertumbuhan angkatan kerja dengan laju pertumbuhan kesempatan kerja yang menjadi pemicu timbulnya permasalahan sentral dalam ketenagakerjaan.

    Demikian pula angka pengangguran di Kabupaten Magetan juga cukup tinggi, mencapai 21.901 orang.

    Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Magetan menunjukkan fluktuasi dari 69,78 pada Tahun 2003, kemudian naik menjadi 70,30 Tahun 2004, kemudian mengalami penurunan pada dua tahun berikutnya (2005 dan 2006) berturut-turut menjadi 68,75 dan 68,31, serta tahun terakhir (2007) semakin menurun menjadi 68,01. 

    Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kondisi Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan yang cenderung mengalami peningkatan dari Tahun 2003 hingga Tahun 2007.

    Data dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang tercatat pada bulan Februari 2009 menunjukkan bahwa Keluarga Fakir Miskin merupakan jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial yang paling banyak di Kabupaten Magetan yakni 38.971 orang (43,71%), diikuti oleh penyandang cacat yakni 15.422 orang (17,30%) dan keluarga berumah tak layak huni yakni 9.744 orang (10,93%). 

    Penyandang cacat di Kabupaten Magetan sebagian besar (53,67%) berjenis kelamin laki-laki. 

    Sementara untuk kalangan perempuan yang menyandang masalah sosial terbanyak selain penyandang cacat (7.145 orang) adalah jenis PMKS yang termasuk dalam kategori perempuan rawan sosek (6.325 orang), diikuti oleh lanjut usia korban terlantar (3.650 orang).

    Selain permasalahan kesejahteraan sosial tersebut, data PMKS mengisyaratkan bahwa anak terlantar, lanjut usia terlantar serta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana dan korban bencana alam lainnya perlu mendapat perhatian di masa mendatang. 

    Selama Tahun 1999-2007 tercatat bahwa jumlah anak terlantar cenderung mengalami peningkatan dari 618 anak pada Tahun 1999 menjadi 3.340 anak pada Tahun 2007.

    Kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Magetan cukup baik, hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya konflik antarpemeluk agama. 

    Sebagian besar penduduk Kabupaten Magetan menganut agama Islam pada Tahun 1999 yakni 99,09% (672.238 jiwa), sedangkan penduduk lainnya menganut agama Kristen 0,49% (3.345 jiwa), Katolik 0,30% (2.049 jiwa), Hindu 0,02% (120 jiwa) dan Budha 0,10% (653 jiwa). 

    Komposisi penduduk menurut agama tersebut relatif sama jika dibandingkan Tahun 2007.

    Faktor sosial budaya tersebut dapat menjadi modal sosial (social capital) dalam kegiatan pembangunan dan menjadi pendorong bagi tumbuhnya partisipasi masyarakat. 

    Selain itu masyarakat Kabupaten Magetan memiliki satu upacara adat yakni Labuh Saji yang diselenggarakan setahun sekali di Telaga Sarangan. 

    Upacara ini diadakan pada hari Jumat Pon Bulan Ruwah (Jawa), sebagai acara bersih desa yang ditandai dengan adanya labuh sesaji ke Telaga Sarangan.

    Selama Tahun 2001-2007 perkembangan rasio melek huruf penduduk perempuan terhadap laki-laki di Kabupaten Magetan mengalami peningkatan yang cukup berarti dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur. 

    Hal ini ditunjukkan dengan rasio perempuan yang melek huruf di Kabupaten Magetan Tahun 2007 tercatat sebesar 100,67, sedangkan di Provinsi Jawa Timur tercatat 101,14. 

    Pada Tahun 2007 penduduk perempuan yang melek huruf dibandingkan penduduk laki-laki jauh lebih baik di Kabupaten Magetan.

    Selama Tahun 2001-2007 rasio melek huruf penduduk perempuan di Provinsi Jawa Timur pada umumnya justru mengalami penurunan. 

    Oleh karena Tahun 2001 rasio perempuan yang melek huruf di Provinsi Jawa Timur tercatat sebesar 102,02, jika kemudian Tahun 2007 tercatat menjadi 101,14 berarti terdapat penurunan kesempatan perempuan yang dapat mengakses pelayanan pendidikan. 

    Sedangkan perempuan di Kabupaten Magetan yang terlibat dalam kegiatan politik khususnya di parlemen sebesar 18,42% sementara di Provinsi Jawa Timur hanya tercatat 9,91%.

    Berdasarkan data yang ada, jumlah partai politik yang mengikuti Pemilu Tahun 1999 sebanyak 48 partai, sedangkan pada Pemilu tahun 2004 diikuti sebanyak 24 partai dan pada Pemilu Tahun 2009 ini diikuti sebanyak 35 partai.

    Pemilu Tahun 2004 yang diikuti oleh 24 partai menghasilkan 10 partai politik yang memperoleh kursi di DPRD Kabupaten Magetan dan dimenangkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan perolehan kursi di DPRD sebanyak 17 kursi. 

    Menyusul kemudian adalah Partai Golongan Karya (Golkar) dengan perolehan kursi sebanyak 8 kursi. 

    Selanjutnya adalah Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dimana masing-masing memperoleh 5 kursi. 

    Berada di bawahnya adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dengan perolehan kursi sebanyak 3 kursi. 

    Kemudian Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masing-masing memperoleh 2 kursi. 

    Selanjutnya adalah Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), Partai Nasional Indonesia Marhaenisme dan Partai Patriot Pancasila masing-masing memperoleh 1 kursi.

    Sampai dengan Tahun 2008, terdapat beberapa kasus pelanggaran terhadap Perda dan Keputusan Bupati. 

    Diantaranya adalah kasus pelanggaran pemasangan spanduk/reklame yang berjumlah 60 buah; bahan Galian Golongan C sebanyak 120 unit/tempat; bangunan liar/tower sebanyak 240 tempat; kandang ternak sebanyak 120 tempat dan pedagang kaki lima (PKL) sebanyak 1.800 unit. 

    Semua hal tersebut bisa terjadi karena masyarakat belum memahami adanya peraturan dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat (sumber: Kantor Satpol PP Kabupaten Magetan).

    Keamanan dan ketertiban di Kabupaten Magetan dari unsur Pemda ditangani oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat.

    Namun demikian kondisi keamanan dan ketertiban yang berhasil dicapai juga merupakan kinerja bersama antara aparat kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan aparat pemda sendiri.